Welcome Message

a

twitter

Follow on Tweets

Jangan Pakai Linux !!!

Posted in

Artikel ini saya ambil dari forum kaskus (http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2232253), yang berjudul Jangan Pakai Linux, tolong dibaca baik-baik agar tidak tersesat, oh iya thx juga buat mas Akbar Pribadi yang juga mengutip artikel ini di blognya :D

Ya! Buat kamu yang belum pernah mencoba menggunakan sistem operasi yang identik dengan logo pinguin ini, ada baiknya untuk tidak mencoba memakainya! Loh? Kenapa? Berikut beberapa alasan untuk tidak menggunakan Linux.

1. Linux itu susah!
Iya itu faktanya. Linux itu susah! Bener-bener susah! Sekali kamu coba memakainya maka akan sulit bagi kamu untuk tidak mengulangi untuk memakainya lagi. Linux bagai candu yang akan membuat pemakainya betah berlama-lama berinteraksi dengannya, dan seringkali memberikan pertanyaan-pertanyaan yang unik dan menarik.

2. Linux itu mainan para hacker!
Buat yang merasa dirinya bukan hacker, sangat disarankan untuk tidak memakai Linux. Mengapa? Iya, karena Linux akan membuat kamu mandiri.

Hmmm… mandiri? Contohnya?

Di Linux, kamu akan menemukan banyak hal baru dan menarik. Kamu akan terus mencoba dan mencoba. Sedikit demi sedikit ‘hack‘ pada sistem operasi ini akan kamu lakukan.

Hack? Iya, hack! Terdengar keren dan begitu geek, bukan? Semua itu legal untuk dilakukan di Linux, karena source codenya dengan mudah dapat kamu peroleh, kamu modifikasi, ubah sana, ubah sini, dan menyebarkannya ulang dengan bebas pula, selama tidak keluar dari ruang lingkup General Public License.

3. Linux itu merugikan!
Pihak-pihak yang mendukung konsep proprietary software tentulah akan merasa dirugikan. Mengapa? Karena bila semakin banyak pengguna Linux (dan open source) tentu lahan bisnis mereka akan semakin tergerus terus dan terus.

Tapi, tidak hanya kerugian dari segi finansial saja yang akan mereka dapat. Melainkan juga ada banyak keuntungan yang akan mereka peroleh, meskipun tidak mereka rasakan secara langsung. Contohnya? Karena software open source tersedia source codenya dengan bebas, maka pengembang software proprietary pun dapat ‘mengintip’ dan ‘mencomot’ beberapa bagian software yang mereka anggap menarik untuk kemudian diintegrasikan ke dalam software komersial mereka.

Duh, contohnya masih kurang nih! Oke… oke… Kita ambil contoh Sun Microsystems dengan software office suite mereka yang ternama, OpenOffice dan StarOffice. Hmmm… ada apa dengan OpenOffice dan StarOffice? Sungguh menarik melihat fenomena yang terjadi di sini. OpenOffice dibangun berdasarkan source code StarOffice, lisensi yang disematkan ke OpenOffice ini bersifat open source yang dikembangkan secara gotong royong dengan komunitas yang tersebar di seantero benua di muka bumi ini. Dari hasil pengembangan OpenOffice, Sun Microsystems kemudian mengambil beberapa bagian kodenya untuk kemudian diintegrasikan ke StarOffice dengan ditambahkan beberapa ‘hasil keringat’ ‘orang dalam’ Sun Microsystems. Lisensi StarOffice sendiri bersifat proprietary. Sebuah hubungan timbal balik yang unik dan saling menguntungkan, bukan?

4. Linux itu jelek dan tidak menarik
Pernyataan itu tidak salah, namun tidak juga benar. Bila kita melihat Linux secara parsial, yakni hanya kernel/intinya saja tentu pernyataan itu dapat dibenarkan. Apa sih yang bisa dilakukan oleh ’seonggok’ kernel? Dan meskipun kernel itu bisa dipakai, apa sih yang menarik dari tampilan command line based dengan background hitam dan teks putih saja?

Namun bila kita melihat Linux secara keseluruhan sebagai satu kesatuan sistem operasi yang komplit, dengan desktop environment dan lingkungan kerja berbasis GUI (Graphical User Interface) yang indah, kemungkinan kamu akan membantah pernyataan itu. Kasih contoh dong! Oke, mari kita tilik sejenak desktop GNOME atau KDE (atau yang lainnya) dengan Compiz enabled dan setting animasi desktop yang maksimal, saya yakin kamu akan takjub melihat keindahannya. Tidak percaya? Silakan berkunjung ke YouTube dan masukkan kata kunci pencarian “compiz desktop”, tonton salah satu video demonstrasinya.

5. Linux itu membingungkan
Amat sangat membingungkan! Itulah perasaan yang akan kamu temui saat pertama kali menatap ‘wajah’ Tux si pinguin ini. Bingung mau memakai distribusi Linux apa, bingung mau pakai software yang mana, bingung untuk menginstal aplikasi apa diantara sekian banyak aplikasi, bingung untuk memilih desktop environment (GNOME, KDE, Xfce, dsb), dan banyak kebingungan-kebingungan lain yang mungkin akan kamu jumpai.

Semua itu wajar. Di dunia Linux dan open source, freedom is the will. Saking beragamnya kebebasan yang ditawarkan, maka tidaklah mengherankan bila perkembangan Linux dan software open source pada umumnya dapat dibilang pesat.

Belum lagi ditambah dengan kebingungan mau bertanya kepada siapa bila nantinya kamu menemui kendala yang serius dikarenakan saking banyaknya LUG (Linux User Group) baik yang bertaraf lokal maupun internasional yang siap membantu menyelesaikan masalah yang kamu temui.

6. Linux itu mahal
Benar sekali! Linux itu mahal! Karena kamu ‘kemungkinan’ akan mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk mendapatkannya. Iya! Semahal satu dua keping CD/DVD blank untuk ‘membakar’ salinan/ISOnya.

Juga untuk membayar koneksi internet (bila ada) atau CD/DVD repository (paket software dalam CD/DVD). Kita ambil contoh DVD repository Ubuntu yang dijual di berbagai toko online, harganya berkisar antara 50.000 s.d 100.000 rupiah! Dudududu… mahal sekali…

Setuju! Mahal sekali biaya yang harus dikeluarkan demi mendapatkan tambahan paket software free dan open source berkualitas yang super lengkap dan super banyak! Coba bandingkan dengan harga satu lisensi sistem operasi proprietary yang harganya berkisar diatas US$ 100 atau harga lisensi untuk satu software proprietary yang harganya bervariasi mulai dari US$ 19.99 hingga ratusan dollar! Ah, jauh sekali perbedaannya. Linux memang mahal.

Ubuntu, melalui program shipitnya menawarkan pengiriman CD Ubuntu gratis ke seluruh penjuru dunia. Namun tidak sepenuhnya gratis! Melainkan mesti membayar ’semacam pajak yang entah terang atau gelap’ ke Kantor Pos, yang biayanya berkisar antara 5000 s.d 7000 rupiah. Mahalnya…

7. Linux itu membodohkan
Maksudnya?

Begini, betapa ‘bodoh’nya ‘orang-orang itu’, sudah capek-capek membuat program eh… kok malah diberikan begitu saja kepada orang lain, berikut source codenya pula! Tanpa meminta imbalan apa-apa! Logis nggak sih?

Melalui tindakan yang ‘bodoh’ itu, para programmer dan mereka yang berkecimpung di dunia open source telah berkontribusi yang tidak sedikit demi kemanusiaan dan perkembangan teknologi informasi untuk masa kini dan masa yang akan datang.

Melaui ‘kebodohan’ mereka pula, perkembangan software open source akan semakin cepat karena akan ada banyak orang yang turut berpartisipasi dalam mencari bugs yang mungkin ada untuk kemudian diperbaiki dan dioptimasi serta ditingkatkan fitur-fiturnya.

8. Linux itu berdosa
Ya, ‘berdosa’ kepada pengembang software proprietary karena tidak memberikan ‘pemasukan’ ke ‘kantong’ mereka dikarenakan software proprietary buatannya mendapatkan saingan dari software open source yang lebih murah, halal, dan legal dengan fitur yang tidak kalah (bahkan melebihi fitur-fitur yang ada pada software proprietary tersebut).

9. Linux itu menyedihkan
Sangat menyedihkan malah, bagaimana mungkin sistem operasi dengan usia yang relatif muda ini mampu berkembang pesat seperti sekarang ini, bahkan berani menghadapi sistem operasi proprietary yang telah dikembangkan jauh sebelumnya dan memiliki pangsa pasar yang tidak sedikit di seluruh dunia.

Bila dulu, banyak pihak yang meramalkan IBM OS/2 adalah sistem operasi masa depan, namun kenyataannya sekarang sungguh berbeda, OS/2 telah ‘down’ (bila tidak ingin dikatakan ‘mati’). Mari kita lihat bagaimana perkembangan Linux beserta software-software open source lainnya beberapa tahun kedepan.


Yup, diatas adalah beberapa alasan yang cukup logis untuk tidak memakai Linux. Sekarang terserah kepada kamu, masih mau memakai Linux?


Catatan:
* Tulisan diatas hanyalah sebuah pemikiran bodoh dari penulis yang hanya seorang lamer yang tidak tahu dan tidak mengerti apa-apa. Mohon maaf bila ada kata-kata yang salah dan kurang berkenan di hati para pembaca dan kepada Allah SWT penulis mohon ampun.

Gloobus : Sebuah Aplikasi Quick Look Untuk Linux

Posted in


Gloobus
merupakan salah satu aplikasi di Linux yang digunakan sebagai Quick Look / Quick Preview dari semua aplikasi yang sedang aktif di Desktop Linux Anda. Semua file seperti file video, gambar, mp3, bahkan zip file dapat kita preview menggunakan Gloobus tanpa perlu membuka file yang dimaksud.



Definisi lengkap tentang gloobus :

Gloobus is an extension of Gnome designed to enable a full screen preview of any kind of file. Ever been annoyed by those tiny miniatures of your files that are helpless. Outraged by the fact that there's no miniature for half of the file formats you're using. Excruciated by the painful loading time to see if you're dealing with the right file? Hail to Gloobus, for tis' is the Holy Grail of preview! Designed as an extendable, standards-compliant previewer , so that it plays nice with Gnome and can be easily extended to support any kind of file, Gloobus enables instant previewing of your files, without even having to open them. Hit space, and BANG, here's the content of your file, displayed as it would if it was opened.



Untuk mendownload gloobus bisa lihat di sini.

Jika keterangan dalam bentuk tulisan gagal membayangkan Anda betapa hebatnya gloobus ini, dua video di bawah ini (saya ambil dari youtube) mungkin dapat membantu.








Trims, selamat mencoba :D

Sumber : melayubuntu.blogspot.com

Cara Alternatif Memasang Codec Multimedia di Ubuntu

Posted in ,



Pada postingan yang sebelumnya saya pernah membahas tentang cara memasang codec multimedia di Ubuntu. Sayangnya codec yang harus dipasang lumayan banyak jadi Anda harus menginstalnya satu persatu. Pada tutorial kali ini saya akan menjelaskan tentang cara memasang codec multimedia di Ubuntu secara lebih sederhana.



Di sini Anda hanya perlu memasang dua buah aplikasi di Ubuntu Anda yakni MPlayer dan VLC Player. MPlayer dan VLC Player merupakan aplikasi pemutar format multimedia populer di Linux yang codecnya sudah lumayan lengkap. Dengan hanya memasang dua aplikasi ini di Ubuntu maka Anda akan bisa memutar hampir semua format audio ataupun video di sistem operasi Ubuntu Anda.







OK, langsung saja berikut langkah-langkahnya :
  1. Pertama pastikan komputer Anda terhubung dengan internet, kecuali Anda sudah memiliki CD/DVD Repositori Ubuntu.


  2. Buka menu Aplications | Accessories | Terminal, kemudian ketikkan perintah berikut :

    $ sudo apt-get install mplayer

    Perintah di atas digunakan untuk memasang aplikasi Mplayer.


  3. Setelah selesai MPlayer selesai diinstal, maka instal juga VLC Player di Ubuntu menggunakan perintah berikut :

    $ sudo apt-get install vlc


Setelah kedua aplikasi di atas selesai diinstal, kemudian coba putar file audio ataupun video kesayangan Anda menggunakan MPlayer atau VLC Player.

Selamat ber-enjoy ria :D

Alternatif Cara Membuat Memori Swap di Linux

Posted in ,

Sama halnya seperti Ms Windows, Linux pun memerlukan memori virtual untuk mendukung jalannya sistem operasi. Akan tetapi penggunaan memori virtual di Linux sedikit berbeda dengan di Ms Windows, kalau di Ms Windows memori virtual ini tercipta secara otomatis saat kita menginstal Windows, memorinya pun tercipta di dalam suatu file yang biasa disebut Page File yang letaknya satu partisi dengan Windows. Sedangkan kalau di Linux kita harus membuatnya sendiri di dalam partisi yang terpisah yang biasa disebut partisi Swap, dan biasanya pembuatan partisi ini bersamaan dengan saat kita menginstal sistem operasi Linux.




Ada yang bilang kalau partisi Swap tidak terlalu penting untuk dibuat karena saat ini spesifikasi komputer sudah sangat besar, misalnya saja RAM yang berkapasitas 8GB pun saat ini harganya sudah sangat murah, jadi tidak perlu lagi membuat memori virtual karena hanya akan membuang-buang isi harddisk saja. Kalau menurut saya pendapat ini tak sepenuhnya benar karena memori virtual peranannya sangat penting tidak hanya untuk mendukung performa sistem operasi saja, memori virtual juga digunakan oleh semua aplikasi/software yang terinstal di sistem operasi Anda.

Tapi bagaimana jika Anda terlanjur menginstal Linux dalam komputer Anda dan Anda lupa/tidak mau membuat partisi Swap karena alasan tertentu? Misalnya saja karena ruang harddisk yang tidak memungkinkan, kondisi harddisk yang tidak memungkinkan lagi untuk membuat partisi baru, atau segan untuk membuat partisi baru karena takut data Anda yang ada di dalam harddisk Anda hilang saat pembuatan partisi Swap seperti saya ini.

Ada sebuah cara alternatif yakni dengan cara membuat Swap File di dalam partisi root Anda. OK, ikuti langkah-langkah di bawah ini :

  1. Buka Terminal dan login sebagai root.

  2. Ketik perintah berikut ini untuk membuat file sebesar 1GB.
    # dd if=/dev/zero of=/swapfile bs=1M count=1000
    Ini artinya ukuran blok (block size) sebesar 1MB, jadi count 1000 berarti membuat file sebesar 1000x1MB yakni 1GB.

  3. Men-set-up file tersebut agar menjadi sebuah swap file.
    # mkswap /swapfile

  4. Mengaktifkan swap file.
    # swapon /swapfile

  5. Agar swap file dapat aktif setiap Linux direboot, tambahkan sebuah entry ke file /etc/fstab.
    # gedit /etc/fstab
    Tambahkan parameter di bawah ini ke dalam file /etc/fstab.
    /swapfile swap swap defaults 0 0
    Jadi setiap Linux reboot, swap file dapat aktif secara otomatis.

  6. Bagaimana cara memverifikasi bahwa Swap aktif atau tidak?
    Caranya jalankan perintah berikut :
    $ free -m

Linux Mint 8 Aka Helena Telah Dirilis

Posted in


Selang beberapa minggu setelah Ubuntu 9.10 aka Karmic Koala dirilis, maka dirilis pula salah satu distro turunan Ubuntu terbaik saat ini yaitu Linux Mint yang saat ini rilisnya sudah mencapai rilis ke-8 aka Helena.

Di website monitoring distro Linux sedunia, Distrowatch, saat ini Linux Mint menduduki posisi ke-3 di bawah Ubuntu dan Fedora. Lalu sebenarnya apa yang menarik dari distro Linux Mint ini? Sampai-sampai bisa menduduki posisi 3 besar dari seluruh distro Linux yang ada di dunia. Distro-distro yang paling tua sekalipun seperti OpenSUSE, Mandriva, dan Debian pun peringkatnya masih di bawah distro yang tergolong masih sangat muda ini.



desktop 3D

Jawabannya adalah kemudahan. Linux Mint sangat memanjakan dan memudahkan para penggunanya, contohnya tampilan desktop yang sangat bagus, codec multimedia yang lengkap, bahkan aplikasi efek desktop 3D (compiz) sudah disediakan di dalamnya, Jadi user hanya tinggal menggunakannya saja, tidak perlu repot-repot instal ini-itu dan setting sana-sini.

Jadi kesimpulannya distro ini sangat cocok bagi pemula yang ingin belajar Linux, untuk warnet (di sisi klien) distro ini pun sangat cocok digunakan, jadi para pemilik warnet tidak perlu repot-repot terlalu banyak instal ini-itu dan setting sana-sini untuk menyempurnakan sistem operasi yang akan digunakan oleh para pengunjungnya.



Mint Desktop

Oh iya, satu hal lagi StartMenu default Linux Mint mirip dengan StartMenu Ms Windows, jadi kebayangkan betapa mudahnya menggunakan distro Linux Mint ini?


Mint StartMenu

Bagi Anda yang tertarik untuk mendownload ISO Linux Mint, bisa mengunjungi halaman ini atau halaman ini (server lokal).